Qurban, Langkah Kecil Menuju ATM

Lagi-lagi sebuah iklan merebut perhatian saya. Iklan tersebut adalah iklan produk sebuah mobil anyar. Cerita di dalam iklan itu berkisah tentang sebuah keluarga dengan satu putri tunggalnya. Setiap hari mereka dilayani oleh seorang supir keluarga. Pagi si supir mengantar sang Bapak ke kantor. Siangnya mengantar si Ibu dengan segala aktifitas sosialitanya. Si putri cantik adalah seorang mahasiswi. Sesekali juga diantar oleh sang supir.

Aktifitas ketiga orang tersebut menggunakan mobil yang sama. Melalui kaca spionnya si supir mengintip. Gaya ketiganya pasti sedang duduk manis dan asyik memegang HP. Sesekali terdengar suara ketawa cekikikan. Sang supir tersenyum melihat mereka. Begitu setiap hari. Kalaupun mereka bertiga sempat sarapan bareng tiap pagi, tidak ada obrolan diantara mereka. Semua menyuap sambil memandang HPnya masing-masing. Ciri khas kekinian. Bahkan komunikasi sedekat itupun dilakukan melalui gadget. “Baca dong WA mama!” atau “lagian kamu sih, pesan papa cuma di read doang, nggak di komen!” Begitulah keseharian keluarga tersebut.

Suatu ketika, si papa mulai curiga kepada sang Istri. Dia membuka komunikasi dengan sang supir. “Mas, ibu kemana saja sih?, kerjaannya cuma minta uang terus shopping, kamu tau nggak ibu main dengan siapa? dan kemana saja?” sang sopir hanya tersenyum. Di lain waktu giliran si mama curhat. “Mas, saya kok curiga Bapak selingkuh, nggak sayang lagi sama saya!”. Sang putri pun tidak ketinggalan untuk menumpahkan uneg-unegnya kepada sang supir. “Mas, tau nggak, papa dan mama itu egois, nggak ada perhatian, saya kan tidak hanya butuh uang”. Kalau sudah begitu, manisnya hilang tertutup ekspresi manyun.

Semua dialog tersebut dilakukan di atas mobil mewah yang menjadi tema sentral iklan. Hari berikutnya terjadi perubahan besar. Dimulai dari si papa dulu. Pas mau naik mobil dia mendapatkan seikat bunga. “Dari siapa mas?” tanyanya kepada si supir. Maap pak dari Ibu buat Bapak. Sambil tersenyum si Bapak mencium wangi sang mawar. Wajah si mama terbayang. Ah mama romantis juga, masih ingat ulang tahun papa. Lain waktu giliran si mama terkaget ketika pulang dari Mall si sopir sudah standby menjemput. “Maap bu, tadi Bapak minta saya jemput ibu, takut ada apa-apa”. Wow hati si ibu berbunga-bunga demi mengingat betapa perhatiannya si papa.

Sang putri tercinta juga menikmati kejutan indah pagi itu. Ketikan masuk ke dalam mobil sebuah boks berisi bekal makan siang sudah tersedia. Isinya roti dan telur dadar kesukaannya. “Mas, dari siapa ini?” Dari ibu non, buat bekal makan siang non, jawab sang sopir. Si putri tersenyum sumringah membayangkan wajah sang mama. Iklan terus bergerak memperlihatkan kinerja dan manuver sang mobil membelah jalan-jalan di ibukota. Lincah dan elegan. Dan cerita berpindah keesokan hari. Sambil mencuci mobil sang sopir mengintip dari jendela.

Di meja makan ketiganya tertawa riang. Sesekali si papa memberi suapan mesra buat si mama. Sang putri pun gantian nyolek si Papa. Sambil sarapan mereka saling berbagi cerita. Tak ada lagi gadget di tangan. Suasana berubah seratus delapan puluh derajat. Sang sopir tersenyum. Dia membayangkan kejadian dua hari yang lalu. Pagi shubuh dia sudah membeli seikat bunga. Lalu buru-buru belanja sedikit untuk membuat roti buat bekal anak majikannya. Sebuah langkah kecil telah berhasil membalik keadaan yang tadinya garing dan berpotensi membuat ribut menjadi sebuah keceriaan.

Dalam hati saya merenung, sudahkan saya mencoba membuat sebuah langkah kecil untuk kehidupan orang lain hari ini? hari kemaren? Ataukah saya masih terlalu egois hanya memikirkan diri ini saja? Semangat berqurban adalah sebuah semangat membangun kepedulian. Sebuah ikhtiar untuk berbagi kepada orang lain. Pernah mendengar cerita orang-orang disekitar kita yang tidak pernah merasakan gurihnya rendang? Atau mencicipi sop daging? Saatnya kita membuat sebuah langkah kecil. Ayunkan langkah anda menuju ATM terdekat. Kuras sedikit tabungan, sampaikan kepada panitia Qurban yang ada di kantor, di rumah atau di kampung anda. Dengan demikian kita sudah membuat sebuah langkah kecil yang membuat orang lain bahagia, seperti yang dilakukan sang sopir. Barakallah.

23/08/2017

Pukul 06.57

#tulisanEO

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s