Nyicil Motor atau Nabung Qurban?

Sebuah pesan WA masuk ke sebuah group di HP saya. Pantia Qurban BPS. Pesan dari Haji Urip bahwa hingga hari ini masih tersisa 20 orang peng-qurban (mudhohi) lagi untuk mencapai angka 16 ekor sapi pencapaian tahun lalu. Artinya panitia sudah menerima sekitar 13 ekor sapi untuk penyembelihan hewan qurban 1438H tahun ini. Sebuah diskusi kecil di beranda masjid minggu lalu menyentak saya. Seorang teman mengkritik sebuah tayangan berita terkait penurunan daya beli. Dia memakai kata penurunan bukan perlambatan.

Saya yang kebetulan memakai mahzab perlambatan tentu saja membantah atau setidaknya berusaha membalik oponinya dia tentang pilihan diksi perlambatan. “Alah jiko, ndak usah bermain kata-kata, buktinya jumlah sapi kita tahun ini menurun!” ungkapnya mendebat saya. Diskusi menjadi menarik dan tentu saja harus diakhiri dengan hati riang dan gembira. Kenapa? Itulah enaknya berdiskusi dengan orang berilmu dan berakhlak mulia, di masjid lagi. Tak ada ujaran kebencian. Semua dibungkus dengan perasaan saling memahami, saling pengertian. Rasa persaudaraan dan kehangatan sangat dalam. Tidak ada komunitas paling sakral selain kepanitiaan acara keagamaan. Coba saja kalau berani.

Pasca diskusi itu saya coba merenungi kata-kata penurunan jumlah sapi tadi. Saya tidak masuk lagi ke dalam pusaran kata menurun atau melambat. Secara jumlah memang terjadi penurunan dari 16 ke angka 13. Walau masih tersisa dua minggu, kondisi ini membuat saya berfikir, apakah terjadi juga penurunan kualitas keimanan pegawai BPS?. Bukannya untuk persiapan berqurban itu sudah diniatkan jauh-jauh hari?. Biasanya sebuah keluarga secara bergiliran akan memakai atas nama secara bergantian. Tahun ini atas nama Abi loh ya. Atas nama Ummi tahun depan ya. Begitu seterusnya.

Apakah terjadi krisis kepercayaan kepada panitia? Tahun lalu menurut saya pelayanan yang diberikan oleh panitia kepada para mudhohi sangat berkelas. Daging jatah peng-qurban dikemas dalam kontainer plastik yang bagus. Dikemas dan ditimbang dengan pas sesuai pesanan. Daging buntut yang diminta bisa dipastikan tidak akan tertukar dengan daging buntut sapi yang bukan miliknya. Standar prosedur operasional panitia sangat tinggi. Ada yang disebut dengan PJ sapi alias penanggung jawab sapi. Dia bertugas mengawal satu ekor sapi mulai dari penyembelihan, pencincangan, hingga pengemasan. Dijamin tidak akan tertukar. Itulah yang membuat saya nyaman berqurban di Masjid Al Arqam BPS ini. Panitianya sangat ketat menjaga amanah. Bagi mereka itu adalah harga mati.

Lalu kenapa masih tersisa tiga ekor sapi lagi untuk mencapai angka tahun lalu?. Mungkinkah daya beli mempengaruhi kemampuan kaum muslim BPS untuk berqurban? Dalam hati saya tidak percaya karena memang tidak ada korelasinya. Berqurban adalah persembahan terbaik kita kepada Allah. Sederhananya, masak sih untuk sebuah ritual suci kepada Allah kita hanya berharap dari sisa uang lembur atau uang rapat diluar jam kantor? Bukannya sudah sejak setahun lalu kita sisihkan sebagian rezeki kita untuk hal ini? Atau, taruhlah kita tidak menabung, pasti kita sudah memperhitungkan dengan baik pos uang mana yang bisa dipakai untuk berqurban nantinya. Nyicil rumah dan kendaraan saja mampu, masak menabung uang qurban tidak? Yuk jadi bahan renungan kita. Barakallah.

22/08/2017

Pukul 06.56

#tulisanEO

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s