Mencuri Perhatian Generasi Milenial

Agar bisa nyender nyaman di pintu kereta perlu strategi jitu. Jika kereta datang dari arah Dipo dalam keadaan kosong, maka ketika berebut masuk kita berdiri di baris ketiga. Baris pertama biasanya diisi ibu-ibu “Estewe” alias setengah tua. Dibaris ke dua biasanya yang agak lebih muda. Jangan pernah berada dibaris pertama dan kedua tadi, anda akan didorong ke kiri dan ke kanan. Kenapa? Jika pintu kereta terlewat maka kerumunan tadi akan tergopoh-gopoh menggeser ke kanan. Begitu sebaliknya. Nah ketika mereka bersaing mendapatkan kursi empuk kita cukup bersaing mendapatkan senderan.

Apabila kereta datang dari Bogor maka kita pakai strategi kedua. Tidak usah berebut naik. Justru usahakan kita orang terakhir yang masuk, sehingga posisi kita pasti pas di depan pintu. Langsung balik badan dengan tas berada di depan dada. Posisi terbalik ini memberi pesan kepada calon penumpang yang akan naik kondisi sudah padat dan silahkan pindah ke pintu masuk sebelahnya. Tak berapa lama pintu ditutup dan kita bisa nyender dengan nyaman. Tolong dicatat ini hanya berlaku di stasiun Depok Lama. Stasiun lain perlu strategi berbeda.

Apa sih pentingnya? Mungkin bagi orang lain tidak penting, tapi bagi saya itu adalah zona nyaman. Entah darimana datangnya ide, hidayah sekalipun, pas nyender insting milenial saya langsung merogoh HP dan berfikir sejenak. Setelah itu kata-kata langsung menderas, mengalir begitu saja. Seperti pagi ini, catatan ini muncul otomatis dan biarkan saja jari menari. Sisanya tinggal diarahkan agar menjadi sebuah tulisan yang tidak menggurui, renyah, sederhana dan mengandung pesan moral.

Jika saja untuk naik kereta kita perlu strategi apalagi melakukan kegiatan memasarkan sebuah hajatan besar seperti Sensus Penduduk 2020. Butuh sebuah kampanye masal, terencana, mulai dari kota hingga menyentuh ujung negeri yang terpinggirkan, tersulit hingga suku pedalaman. Apalagi merangsang anak muda agar lebih mengenal BPS hingga menyukai statistik adalah sebuah perjuangan. Generasi milenial hidup dengan segala kemudahan. Tidak mau ribet dan cenderung menyendiri. Komunikasi ada di jemari mereka. Bahkan jika driver go-food bisa mengantar makanan hingga ke kamar, mungkin itu akan mereka lakukan juga. Strategi kampanye lewat poster, spanduk, atau leaflet adalah strategi tiki taka klub Bercelona yang sudah usang dan mulai ditinggalkan.

Mengambil contoh program Teach Census yang dilakukan BPS Australia kepada para pelajar perlu dicoba. Saat belajar di sekolah adalah saat tatap muka dengan mereka tanpa gadget di tangan. Kita bisa menyela untuk memberikan presentasi tentang sensus. Atau ada sebuah program Portrait of Amerika yang bercerita tentang ptofil Amerika yang berisi data-data kependudukan hasil sensus penduduk yang menjadi bahan diskusi di berbagai perguruan tinggi. Jika disampaikan dengan menarik pasti memantik rasa “kepo” mereka terhadap kegiatan pengumpulan data sepuluh tahun sekali. Isu-isu sosial kependudukan hingga bonus demografi menjadi topik viral untuk dibahas.

Untuk sosialisasi ke penghuni apartemen, rumah mewah tentu memakai strategi berbeda. Tidak sembarang poster bisa ditempel, apalagi spanduk atau menebar leaflet. Boro-boro dibaca yang ada langsung dibuang. Kaum berduit ini biasanya butuh endorsemen dari tokoh, artis, penulis, bahkan atlet terkenal. Lewat beragam iklan yang diputar diberbagai kanal seperti TV, Radio, FB, Youtube, Instagram dan Twitter diharapkan mereka tergugah dan mau terlibat. Tagline “Cukup Luangkan 10 Menit Waktu Anda untuk Indonesia Menghitung” perlu diputar berkali-kali. Beri mereka kemudahan lewat E-Kuesioner. Ciptakan aplikasi sederhana yang bisa diakses lewat HP. Yakinkan bahwa data atau informasi yang mereka berikan sangat dijamin keamanannya. Strategi memang butuh kreatifitas dan tidak bisa seragam. Barakallah

13/10/2017

Pukul 06.30

#tulisanEO

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s