Jangan Menulis Untuk Menambah Argo Dosa

Pingin menulis enak? Dibaca banyak orang? Pingin melihat yang membaca termehek-mehek? Apa kiatnya? Pertama tentu berawal dari niat yang kuat dulu. Banyak orang bisa menulis, tapi menulis enak setahu saya tidak ada sekolahnya. Menulis enak butuh keseriusan dan bakat. Ah nggak gitu-gitu amat mas bro?. Ada tuh yang sambil leyeh-leyeh jadi tuh satu tulisan. Bahkan saya punya teman yang lebih ekstrim. Beri dia waktu sepuluh menit jadi tuh barang. Untuk kategori yang seperti ini dia memang punya “gift” dari Allah sehingga sesuatu yang tampak susah dimata kita mudah ditangan dia. Saya belum sampai ke level itu. Makanya saya butuh kerja jauh lebih keras memahami dunia ini. Seperti iklan, menulis kok coba-coba. Kudu ditekunin.

Jika anda adalah pemula maka tanya dulu ke dalam jiwa dan raga anda apa iya saya pingin “banget” menulis. Kalau jawabannya pingin coba-coba maka anda butuh upaya ekstra ordinary untuk meraih pembaca. Seorang bos saya mengaku, waktu dia mengikuti diklat kepemimpinan, hal yang paling ditakutkannya adalah sesi baris berbaris. Dilatih seperti apapun gerakannya pasti salah. Kaki kanan maju tangan kanan ikutan maju. Begitu terus menerus sampai sang pelatih menegurnya karena dianggap bercanda. Menulis butuh latihan yang berkesinambungan. Memakai perasaan.

Menulis enak itu susah. Saya pernah merasakannya. Suatu ketika saya mendapat penugasan ke daerah. Sebuah dilema muncul. Narasumber yang diharapkan aktif bicara ternyata diluar perkiraan. Wawancara berlangsung cepat karena kebanyakan jawaban tidak tau atau itu mah bukan bagian saya. Begitu berulang. Semua teori komunikasi dan pendekatan personal sudah diurai habis tetap saja tidak ketemu rohnya. Ditambah capek badan maka fokus tulisan harus segera dialihkan. Cari nara sumber lain sebagai pendukung. Dan ini bukan pekerjaan mudah. Ganti topik? Apalagi.

Itu kalau menulis laporan liputan. Bagaimana dengan menulis opini bebas? Mestinya mudahkan? Bagi yang punya bakat saya jawab iya. Jika tidak, tetap saja perlu komitmen dan tekad baja. Kok bawaanya pesimis banget sih mas bro. Saya mencoba membawa kita semua kepada fakta bahwa tidak semua bisa kita lakukan dengan baik hanya dengan setengah-setengah. Saya dikirimin sebuah artikel oleh seorang teman. Masih soal pendapatan 11.000 orang Indonesia yang tidak dianggap miskin itu. Berita ini sempat menjadi viral. Katanya itu tulisan seorang wartawan senior. Isinya bagus untuk untuk para sumbu pendek yang sangat gampang terbakar emosinya.

Saya menikmati cara menulisnya. Mengalir dengan logika yang pas. Pikiran kita disetir dan dibawa ke alam bawah sadar “coba saja kamu hidup dengan uang segitu sehari sanggup tidak?” Nah persoalannya adalah, tulisan itu tidak hanya sekedar “enak dibaca” tapi juga membawa pesan kebaikan. Nah sampai di level ini tingkat kesulitannya semakin menjadi-jadi. Hati-hati dengan pesan moral yang kita wariskan. Bayangkan kalau kebencian yang muncul? Perasaan itu akan disimpan bahkan ditularkan oleh si pembacanya ke media atau orang lain. Dosa yang lalu belum kering sudah muncul dosa baru.

Setiap selesai menulis sesuatu saya membathin. Bermanfaat tidak? Jika berpotensi menambah argo dosa maka saya segera mengangkat tangan tinggi-tinggi. Ampunkan hamba ya Allah. Tiada maksud jahat untuk membawa orang-orang yang membaca tulisan ini ke jalan yang salah. Tolong ya Allah, luruskan fikiran dan niatnya. Jauhkan rasa benci dan kecewa. Berikan mereka hati yang lapang untuk mencerna kata per kata. Maapkan saya teman. Jumat Barokah. Barakallah

Bogor, 18/08/2017

Pukul 08.49

#tulisanEO

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s