Tertampar di Kota Bandung

Mungkin Bandung diciptakan ketika Tuhan sedang tersenyum (M.A.W Brouwer). Bandung memang indah, dengan segala objek wisatanya. Masterpiece-nya Allah. Di Bandung ini jualah saya kembali menemukan Islam. Sekitar enam tahun yang lalu seorang sahabat mengajak saya bergabung dalam grup One Day One Juz (ODOJ). Memang sebelumnya Islam saya hilang?

Saya masih muslim tapi tidak melakukan ibadah seperti yang seharusnya. Hanya bermodalkan sholat wajib dan puasa saja di bulan Ramadhan. Yang namanya mengaji, sholat dhuha, sedekah, puasa sunnah, dan ibadah lainnya dilakukan ketika butuh Allah saja. Mengerikan sekali. Ibadah laksana jual beli.

Makanya, di ritual haji, saya baru bisa merasakan nikmatnya tawaf ketika melakukannya untuk yang ketiga kalinya. Saya jatuh sejatuh-jatuhnya. Saya menghamba kepada Allah, berilah saya kesempatan satu kali saja. Bersihkan saya dari lumpur dosa yang melekat di diri ini. Seperti batu, tak bisa disiram hanya bermodalkan air. Deterjen apalagi, sudah tak mempan. Harus dikikis. Mungkin butuh air keras.

Singkat cerita, saya mengiyakan tawaran itu. Lalu muncul masalah. Qur’an mana Qur’an? Smartphone saya ternyata tanpa fitur Al-Qur’an di dalamnya. Hiks. Disela-sela Rateknas, saya izin keluar hotel Preanger. Saya naik angkot tanpa bertanya. Targetnya toko buku. Sekitar tiga kilometer dari hotel, saya menemukan Al-Qur’an bersejarah saya.

Kembali ke ruangan rapat, saya mulai membacanya. Sembunyi-sembunyi. Ditutupi materi rapat. Program ODOJ mengharuskan anggotanya untuk menyetor bacaan suratnya paling lambat jam delapan malam setiap harinya. Yang tidak bisa karena suatu hal, maka juz-nya akan dilelang. Anggota lain akan mengambil jatah kita. Kesimpulannya, grup yang berisi tiga puluh orang itu akan khataman setiap hari.

Saking sudah tidak terbiasanya saya mengaji satu juz, akhirnya juz pertama saya itu dikeroyok bersama si Umi, abang Alif dan Naura Saffa. Malam itu untuk pertama kalinya saya menyetor satu juz bacaan Qur’an saya. Mengharubiru. Bukan untuk orang lain. Untuk diri yang kosong ini.

Hari ini apakah semua berjalan lancar? Masih naik turun. Saya butuh berjuang lebih keras lagi. Terlalu banyak pembenaran atas kesibukan kerja. Kelelahan yang menerpa. Seolah menjadi manusia yang paling dibutuhkan. Terlalu cinta pada dunia ini.

Maka, di Bandung jualah, hari ini saya kembali ditampar. Saya kembali diingatkan, sudah berkualitaskah ibadah ke-Islam-an saya? Apakah masih seperti sediakala? Seadanya. Hanya sebuah kewajiban. Hanya sebuah rutinitas.

Ya Allah, di bumi-Mu yang indah ini, mohon beri saya kesempatan sekali lagi. Basuhlah dosa ini. Kembalikan hati ini untuk selalu mencintai-Mu.

Bandung
17/03/2017
Pukul 06.23

#tulisanEO

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s