Si Kaliang Maliang Karak Nasi

Entah mengapa hari ini Rozali kembali memutuskan untuk tidak berangkat mengaji. Ini sudah hari ketiga. Sudah parah. Dipancing dengan uang jajan sepuluh rupiah dia bergeming. Tak mau beranjak dari dipan lusuh di kamar tengah. Bukan kamar sebenarnya. Hanya ruang tengah. Rumah petak itu berukuran 4×8 meter. Berjejer sebanyak enam deret. Rumah untuk karyawan toko kelontong terbesar di kota Padang. Rozali dan ayahnya tinggal disitu empat puluh tiga tahun yang lalu.

Bersama tiga kakak perempuannya, Rozali berbagi kamar. Ruang tengah berdiameter 4x3m itu disesaki empat orang anak. Kamar orang tuanya di bagian belakang, sisanya ruang tamu. Semuanya tanpa pintu. Dari ruang tamu hingga ke kamar belakang sebenarnya plong. Oleh ayahnya dibuatlah pembatas, seolah-olah ada kamar. Di pojok kamar tengah itu dipan Rozali teronggok. Sudah dua hari dia leyeh-leyeh di situ.

Kok nggak ngaji nak? Sapa ibunya lembut. Sambil mengusap kepala, ibunya menyentuh keningnya. “Nggak panas kok, kamu sakit perut? mencret? makan apa tadi siang?” Bertubi-tubi pertanyaan ibunya. “Ndak apa-apa kok bu, lagi malas aja, ntar ngaji sama kakak saja di rumah”. Biasa kok. Rozali mencoba menenangkan ibunya. Karena sedang memasak si ibu buru-buru beranjak ke dapur. Lamunan Rozali berlanjut.

Peristiwa kemaren sore masih membekas dihatinya. Rasa takut itu membuncah hingga ubun-ubunnya. Dadanya masih sesak. Pukulan si Kaliang itu sebenarnya tidak terlalu keras. Tapi karena yang disasar ulu hatinya, dan kebetulan dia tidak siap, maka jantungnya terasa mau tanggal. Dua tarikan napas membuatnya sedikit lega. “Awas waang ya, bisuak harus maagiah den pitih, kalau indak waang indak buliah lewat siko” Mata si Kaliang membelalak ketika mengirimkan ancaman itu. Mau lewat mana lagi ya? Itu jalan satu-satunya menuju masjid Al Ikhlas. Pakai bayar lagi. Rozali terduduk. Teman-temannya kabur. Panakuik kalian. Dasar penakut bathinnya.

Memasuki hari ketiga Rozali kembali berfikir keras. Dia ingat cerita ustadznya. Ketika ada seorang lelaki ingin berangkat sholat shubuh ke masjid. Lalu di depan rumahnya dia terpeleset dan terjatuh. Bajunya kotor berlumuran lumpur. Dia kembali ke dalam. Bersih-bersih dan kembali balik ke masjid. Dan ketika dia jatuh lagi untuk kedua kalinya, dia kembali berbenah dan berniat kembali berangkat ke masjid. Kali ini syaitan yang berwujud manusia memberikan dia penerangan. Dia pastikan lelaki tersebut sampai ke masjid dengan selamat.

Apa pasal? Kenapa syaitan bersikeras sampai memberikan penerangan segala untuk lelaki tersebut. Karena syaitan tidak ingin kalau hingga tiga kali jatuh dan si lelaki tadi tetap ingin ke masjid maka dosa-dosa orang sekampungnya akan diampuni oleh Allah. Ketika jatuh pertama, dosa lelaki tadi diampuni oleh Allah. Jatuh yang kedua dosa seluruh keluarga lelaki tersebut diampuni Allah. Jika jatuh ketiga kali dan si lelaki tersebut kekeuh tetap ke masjid maka Allah akan mengampunkan dosa seluruh orang di kampung itu. Syaitan berjuang keras agar fasilitas dosa amnesty ini tidak diaplikasikan.

Sudah dua hari Rozali menahan hasrat jajannya. Bukan karena sedang berpuasa. Dia harus mengumpulkan uang untuk membayar upeti kepada si Kaliang. Anak badung yang sekujur tubuhnya berwarna gelap. Kaliang artinya hitam. Biarlah katanya. Anggap saja ini pengorbanan saya. Mengaji adalah sebuah kewajiban. Jajan cuma apalah. Takkan mati juga kita kalau tidak jajan sehari. Kalau tidak mengaji? Siapa yang akan mengalungkan mahkota kepada orangtuanya kelak di syurga? Mengingat hal itu. Semangat Rozali kembali membara.

Setelah pamitan sambil mencium tangan sang ibu, Rozali melangkah mantap. Disaku sebelah kanannya sudah terkumpul uang tiga rupiah. Hasil menabung tiga hari. Buku juz amma dimasukkan ke dalam tas kain yang terbuat dari sisa kantong terigu. Lumayan bagus.

Berjarak dua puluh meter dari pintu masuk masjid Al Ikhlas dia melihat orang-orang berkerumun. Beberapa berlarian menghindar memberi jalan. Seorang temannya, Wandil terengah-engah berlari ke arahnya. “Ado apo ndil? apo nan tajadi? manga urang?”. “Si Kaliang kanai tangkok” jawab si Wandil. Ditangkap kenapa? Rozali ikutan pucat. Seorang polisi terlihat memeluk si Kaliang menghindari amuk masa. Setengah berlari si polisi membawa masuk si Kaliang ke dalam bemo yang sedang parkir dan membawa kabur ke kantor polisi terdekat.

Sore itu di sebuah rumah petak, si Kaliang ketahuan masuk ke dalam rumah ingin mencuri sesuatu. Karena tidak menemukan makanan di dalam rumah dia bablas hingga dapur. Ketemu periuk nasi, disikat juga. Padahal hanya tersisa kerak. Ketika sedang memakan kerak nasi itulah yang punya rumah datang. Malang benar nasib si Kaliang. Tapi berkah buat Rozali. Hari ini dan esok, pergi mengaji adalah sebuah kelezatan yang tidak terkira. Tak ada lagi ancaman. Hidup terasa sangat indah.

29/03/2017
Pukul 06.10

#tulisanEO

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s