Sekali ke Padang Pasti Pingin Kembali

Cerita tentang Padang bagi saya seolah tak pernah usai. Banyak catatan yang berserak dan bisa diambil hikmah darinya. Takala saya dan rombongan melaksanakan sholat zhuhur di sebuah SPBU di daerah Aia Putiah sekitar dua puluh kilometer dari pusat kota Payakumbuh, seorang teman mengagumi kebersihan toiletnya. Tempat pipisnya saja bagus apalagi masjidnya. Berdiri megah disamping shelter SPBU dan antrian bus serta mobil pribadi yang mengisi bahan bakar. Dengan latar belakang bukit batu cadas menambah indahnya masjid tersebut.

Empat orang petugas kebersihan khusus dipakai pengelola SPBU untuk menjaga kebersihan lingkungan itu. Tak ada yang aneh sebetulnya. Salah seorang petugas perempuan yang saya ajak berbincang menjelaskan bahwa mereka adalah pegawai kontrak. Ada perusahaan swasta yang memperkerjakan mereka. Ada cerita sedikit soal ini. Orang Padang seperti terlahir dengan jiwa bisnis yang melekat dalam dirinya. Dua puluh tahun yang lalu saya tidak bakal menemukan orang Padang yang mau melakukan pekerjaan remeh temeh seperti membersihkan masjid dan toliet. Kecuali dia adalah marbot masjid. Kebanyakan memilih jadi pedagang. Jadi bos buat dirinya sendiri.

Roda zaman bergerak maju. Sewaktu saya SMA di tahun 1983 tidak pernah sekalipun saya makan mie ayam atau bubur ayam. Kedua jenis makanan ini baru muncul ketika saya tamat kuliah, tahun 1990-an. Jadi ketika menjadi mahasiswa dan ikut seminar ke pulau Jawa, disitulah saya baru merasakan makanan “anak bayi” itu. Itu istilah yang kami berikan kepada sang bubur. Lebih pedas lagi, itu makanan “urang sakik”. Banyak pasien rumah sakit yang terpaksa mengkonsumsi bubur ayam ini supaya masih bisa makan.

Kembali ke SPBU, ada sebuah catatan yang bisa saya ambil bahwa tingginya tingkat persaingan mencari pekerjaan membuat pilihan tak banyak lagi tersedia. Mau tidak mau pilihan yang di depan mata diambil. Hebatnya, ternyata mereka bisa profesional. Setiap jengkal masjid dilap, disemprot dengan air sabun dan diseka supaya kinclong. Hasilnya jemaah betah sholat di dalamnya. Hati senang, keinginan bersedekah muncul. Itulah multiplier effect dari sebuah totalitas pekerjaan yang dilakukan dengan amanah.

Di tempat lain di sebuah daratan tinggi ada sebuah nagari yang dikenal sebagai paling tua di Sumatera Barat yaitu Nagari Tuo Pariangan. Indahnya nagari atau desa ini sudah terkenal di manca negara. Bahkan sebuah situs travel memasukkan desa ini ke dalam lima desa terindah di dunia yang disandingkan dengan empat desa lainnya yaitu Desa Wengen di Swiss, Eze di Prancis, Niagara on the Lake di Kanada, dan Cesky Krumlov di Ceko Slovakia. Yang menarik ketika disebuah warung kami minum seduhan daun kopi yang disebut sebagai Kawa Daun dan pipis disalah satu toilet disana, seorang teman kembali berujar bahwa toiletnya bersih.

Masih banyak sebetulnya tempat lain yang kurang bersih, sebut saja Bandara Internasional Minangkabau (BIM), toliet di terminal keberangkatan di lantai dua penuh dengan tissue dan wc mampet. Mungkin saat saya masuk petugasnya belum sempat membersihkan. Tapi setidaknya dua cerita di atas menjadi pembanding bahwa untuk mendapatkan kesimpulan kita tidak bisa menggunakan dua contoh sampel saja. Perlu metodologi dan ilmu statistik untuk membuat kesimpulan. BPS adalah ahlinya. Disitulah kami bekerja. Selamat pagi Jakarta. Barakallah.

31/07/2017
Pukul 06.50

#tulisanEO

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s