Motivasi Dari Seorang Sahabat

Setelah membaca beberapa dari 297 tulisannya di Kompasiana, dilanjut dengan bertukar senyum di Masjid Al Arqam, akhirnya saya berkesempatan berdekatan dengan profesor Kadir (begitu sahabat saya mas Bayu Rhamadani W memanggilnya). Hadir sebagai motivator dalam Seminar Pengembangan Statistik (16/11) di Ged 1 lantai 10 BPS, penampilannya jauh diluar dugaan saya. Sebelum tampil, saya yang beruntung duduk disamping beliau sempat berbisik, mas ntar jangan tampil di mimbar ya…muter2 aja saran saya, biar nggak formil. Dia cuma mengangguk. Namanya seminar teknis saya takut penonton jenuh. Setelah beberapa kali batuk karena tenggorokan gatel (adrenalin biasanya naik turun lima menit menjelang tampil) beliau izin ke saya untuk ke toilet. Saya persilahkan walau itu tidak harus.

Selanjutnya saya menyaksikan penampilan seorang orator muda yang bertenaga, dinamis dan punya prospek menjadi salah seorang yang akan menguncang BPS dimasa depan. Jujur saja, saya tidak mengkultuskan beliau, tapi kok saya membayangkan Kadir Ruslan adalah Kecuk Suhariyanto masa depan BPS. Tutur kata, intonasi, pilihan kalimat nyaris sama. Beda jam terbang saja. Analisis dan ungkapan yang disampaikan lahir dari sebuah perenungan yang dalam terhadap data. Ada nuansa cinta yang kuat atas ragam data yang dipunyai BPS. “Mungkin saya adalah orang yang paling sering berkunjung ke website BPS” ungkapnya. Tidak ada getaran kesombongan. Itu hanyalah ungkapan sebuah frasa jangan sampai kita mati di lumbung padi. BPS adalah harta karun data. Kenapa tidak dimanfaatkan jadi bank informasi untuk membuat sebuah tulisan?

Gerakan tangan dan bahasa tubuhnya membius saya selama 40 menit orasinya. Cara Kadir berbagi pengalaman menulisnya mengalir begitu saja. Sederhana, tanpa teori macem-macem dan mudah diingat. Gaya ceramahnya juga menarik, diselingi beberapa kali joke. Dia pernah menulis status di fb nya, bagaimana cara dia melatih diri bicara di depan kaca sebelum berangkat ke Roma Itali Oktober lalu. Saya seperti orang gila tulisnya, latihan pidato berkali kali, berulang ulang. Memang untuk menjadi orang hebat kita kudu gila prof. Tentu dalam konotasi gila positif.

Saya tidak tahu, apakah 198 orang di belakang saya ikut terbuai dengan penjelasan Kadir yang sudah merasakan nikmatnya honor menulis di koran atau di blog. Yang saya tahu, sejak hari ini saya akan meniru langkah sang Kadir untuk mulai menulis. Karena saya tidak mau hanya berlalu seperti angin dan selanjutnya hilang ditelan masa lalu. Saya harus memulainya. Walau berat, saya harus merapal doa agar bisa mengikuti jejak seorang pencinta data. Hanya butuh komitmen dan disiplin, perjuangan ini harus direngkuh. Terima kasih mas Kadir yang telah merangsang minat menulis saya.

Sebuah catatan di Gerbong 3 Juanda-Depok (16/11).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s