Mengasah Kepedulian

Ucapan salam Ustadz Endang Mintarja mengakhiri sambutannya sebagai Ketua DKM Masjid At-Taqwa Rivaria Sawangan. Camera canon D-1000 ku segera berkedip, klik klik terdengar bunyi-bunyian yang membuat fotografer berdesir, dua klik foto ustadz Endang sebelum turun panggung sudah terekam. Mataku masih saja jelalatan mencari objek. Tapi kali ini yang kusasar bukan objek foto, melainkan dua buah hatiku yang belum kelihatan. Hatiku berdesir, jangan-jangan mereka nggak ikut ke masjid. Memang sich acara maulid ini diselenggarakan oleh DKM tapi anak-anak biasanya ikut meramaikan. Bener saja, ketika kutanya si umi, jawabannya pendek “di rumah kali”. Kuketok pintu kamar, keduanya lagi asyik bercanda. Kucoba menahan emosi yang sudah di ubun-ubun. Pesan almarhumah ibu langsung muncul, “walau harimau dalam perut, tapi keluarnya kambing” maknanya adalah walau emosi memuncak ingin menerkam, tapi yang keluar dari mulut adalah senyuman….nggak tau tuch pas nggak memaknainya. Biasanya pesan tersebut cukup ampuh untuk meredakan emosiku.

Kenapa nggak ke masjid sich nak? tanyaku lembut. Kalo udah begitu hanya si bungsu Saffa yang berani menjawab, si abang paling males komen. Teman-temannya udah rame tuh, ajakku. Keiinginanku sederhana, mereka harus peduli lingkungan. Bayangkan, kegiatan di masjid yang hanya berjarak 10 meter dari rumah saja mereka nggak peduli bagaimana dengan yang lain. Agama mengajarkan, dibanding mengerjakan sholat sunat di rumah pada waktu yang bersamaan, lebih baik ikut gotong royong di depan rumah bersama warga lainnya. Hubungan sosial perlu dijaga. Itulah indahnya Islam. “Adek kirain buat acara Bapak-Bapak saja” Naura Saffa bidadariku yang manis memberi argumen. Alhamdulillah jawabannya sedikit melegakanku. “Iya dek, abi pingin adek tidak hanya pintar matematika tapi juga peduli dengan apa yang terjadi di lingkungan kita, itu namanya social capital” kataku. Mata binarnya menyiratkan ketidakmengertian.

Mengasah kepedulian harus diperjuangkan. Dalam sebulan, sekali dua kali aku pasti memaksakan diri naik kereta api. Disamping letih harus nyopir 4-5 jam sehari, perjalanan ini kujadikan sebagai sarana mengasah kepedulian. Jangan naik yang ekspres full AC, tapi naiklah yang ekonomi. Biayanya sangat murah, dua ribu perak untuk jarak Depok-Kota. Sebelum naik, siapkan mental, keamanan dan tentu saja fisik. Jangan berharap kereta kosong, karena ini adalah sarana transportasi yang paling digandrungi masayarakat ekonomi bawah. Perjuangan masuk kedalam kereta yang penuh sesak adalah ujian pertama. Selamat masuk belum tentu masalah selesai. Duduk, udah pasti jauh dari harapan, kecuali jika anda seorang ibu hamil yang memasang muka memelas, itupun nggak jaminan, gimana kalo hamilnya baru 3 bulan he he. Dalam kondisi sesak seperti itu, pedagang asongan, koran, cemilan sampai jepitan rambut silih berganti tawaf dari gerbong satu ke gerbong depannya. Bagaimanapun sesaknya kereta, target penjualan harus tercapai. Inilah seninya hidup. Emang abi nggak capek tanya Saffa ketika kuceritakan kisah ini. Disinilah dek, kita bisa merasakan susahnya jadi orang “kismin” seperti yang biasa dibilang bang Madit tokoh dalam Sinetron Islam KTP. Coba kalo abi bicara kemiskinan, tapi setiap hari naik Xenia plat merah dengan AC dingin dan musik yang merdu abi nggak dapat roh nya, jawabku diplomatis. Sekali lagi mata binarnya memancarkan aura kebingungan (Depok, 20 Februari 2011)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s