Melambat Tak Berarti Turunnya Hujan

Saya harus mencari kosa kata baru untuk menggambarkan betapa ciamiknya penyampaian Kecuk Suhariyanto Kepala BPS RI dalam acara talkshow bersama dua pengamat ekonomi kenamaan Indonesia, Faisal Basri dan Hendri Saparini. Faisal adalah ekonom kritis Universitas Indonesia yang sangat tajam baik tulisan maupun komentarnya di dalam membedah masalah ekonomi Indonesia. Sementara Hendri Saparini sendiri anggota Komisi Ekonomi dan Industri Nasional Indonesia (KEIN) yang cukup galak mengkritisi pemerintah termasuk BPS di dalamnya.

Topik yang diangkat sedang hot-hotnya. Penurunan daya beli masyarakat!. Tentu saja BPS adalah pemain utama yang menjadi pusat perhatian karena beberapa indikator data yang dipakai berasal dari BPS. Sebut saja angka pertumbuhan ekonomi Indonesia yang di dalamnya ada angka pengeluaran konsumsi rumahtangga. Beberapa indikator lain tentu saja ada inflasi, nilai tukar petani, upah buruh yang jika dikaitkan bisa sedikit banyak menjawab fenomena mengapa terjadi perlambatan dalam daya beli masyarakat.

Ada satu kata kunci menarik yang disampaikan pak Kecuk bahwa kata melambat berbeda dengan menurun. Perlambatan mengindikasikan masih terjadi pertumbuhan walau tidak setinggi bulan lalu atau periode waktu tertentu lainnya. Misal terhadap tiga bulan lalu atau tahun lalu. Sementara menurun konotasinya negatif. Apakah BPS bermain-main dengan pilihan diksi atau kalimat yang meninabobokkan? Tentu tidak. Pemahaman inilah yang disampaikan dengan jitu oleh Kepala BPS kepada para wartawan yang hadir di acara Forum Merdeka Barat 9 yang digagas Kominfo hari Sabtu (12/08) lalu.

Mohon maap saya tidak perlu menjilat dengan memuji bos besar saya tersebut setinggi angkasa. Sementara ini beliau memang sakti mandraguna di bidang statistik. Paparannya meyakinkan penonton. Saya yakin banyak pegawai BPS yang setuju. Seorang wartawan menyapa saya. Kok bisa ya dua pengamat ekonomi terkenal yang galaknya minta ampun terlihat adem bin tenang setelah mendengar ulasan pak Kecuk. Saya menjawab, mungkin sebagian pertanyaan mereka sudah terjawab sehingga tak perlu lagi memprovokasi keadaan dengan data atau informasi yang belum tentu valid.

Situasi perekonomian kita memang sedang memasuki babak baru. Banyak terjadi shifting atau perubahan pola belanja di masyarakat. Orang-orang kelas menengah atas menahan diri untuk tidak jor-joran belanja. Selain investasi dalam bentuk tabungan sebagian juga mengalokasikan dananya buat liburan dan kegiatan hiburan lainnya. Masyarakat bawah memang sedikit terpengaruh, tapi kondisi tidaklah segawat yang dikatakan para pengamat lainnya. Kita masih optimis kata pak Kecuk. Data konsumsi kita masih kuat. Sementara investasi juga proporsinya semakin besar. Ini bagus buat ekonomi indonesia ke depan agar tidak tergantung lagi kepada konsumsi rumahtangga. Brilian.

Di ujung tulisan ini seorang sahabat saya bertanya di status FB saya Sabtu itu. Pak Kecuk itu makannya apa ya? Kok bisa pintar sekali. Dalam hati saya menjawab “perasaan sama kok, beliau sama-sama makan nasi” Mungkin yang perlu dicontoh adalah beliau suka membaca, suka juga menulis, serius mempersiapkan diri untuk memaparkan sesuatu. Pilihan diksi dan tutur katanya efisien, mengena, dan tentu saja berdasarkan fakta. Beliau tidak suka bicara meledak, bahkan terlalu lembut menurut saya. Tapi dibalik itu tersimpan energi yang luar biasa. Energi data yang berasal dari kerja keras anak buahnya di seluruh antero nusantara. Banggalah bekerja untuk BPS karena Data kita adalah pelita buat menerangi kegelapan bangsa ini. Barakallah.

15/08/2017

Pukul 06.25

#tulisanEO

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s