Marah Kok Bilang Sayang

Terkadang saya termakan julukan yang saya ciptakan sendiri. Manusia tanpa marah alias MTM. Sejak itu di launching beberapa waktu silam saya mulai mempraktekkannya dalam kehidupan sehari-hari. Di rumah, di lingkungan keluarga, dunia pekerjaan bahkan dalam sebuah event olahraga. Teorinya mah gampang bin mudah, tetapi aplikasinya tidak semudah membeli gorengan. Itupun kalau bawa uang disaku.

Sekian tahun silam salah satu bosnya si ummi di kantornya pernah dikursuskan untuk bisa marah. Segitu lebaynyakah? Ini beneran, kalau tidak percaya, titipkan pertanyaannya ke saya, nanti malam akan saya sampaikan. Marahnya dalam bahasa Inggris tapi. Dibelahan dunia barat sana bahkan ada mobil atau dinding atau botol yang siap dihancurkan untuk melampiaskan rasa marah tadi. Disediakan palu godam, kampak atau balok yang siap dihantamkan ke benda-benda itu. Hanya untuk melepas dahaga kemarahan.

Bagaimana kalau marahnya telat? Maksudnya? Misal, dari hasil sebuah sensus atau survei diduga hasilnya tidak sesuai dengan harapan yang diinginkan. Lalu? Kan ada ukuran statistik untuk menilai sebuah hasil survei. Kita bisa check respon rate-nya, standard error yang dipasang, dan banyak lagi alarm yang bisa dipakai untuk menjastifikasi sebuah survei sudah memenuhi kaidah statistik yang benar.

Marah terlambat tadi terkadang dipicu dari hasil komentar yang tidak berbobot. Dalam sebuah diskusi sering dipakai kata-kata menurut perasaan saya. Atau menurut pengamatan saya. Atau rasanya kok hasilnya tidak meyakinkan ya. Atau saya curiga kuesioner ini diisi dengan sembarangan. Atau jangan-jangan petugas nggak ke lapangan. Saya miris mendengar diskusi yang dimulai dengan kata-kata “atau” tadi.

Pepatah serahkan tugas kepada ahlinya itu perlu dipahami dengan baik. Kemaren kami kedatangan seorang Bupati dari Kalimantan Barat. Dengan lugas dia ungkapkan kekecewaannya karena peringkat IPM kabupatennya melorot. Tapi yang mengejutkan dia tetap memberi apresiasi kepada BPS karena mengakui BPS adalah ahlinya. Saya orang politik, itu bidang saya, mari bermain di bidangnya masing-masing. Sebuah kesepakatan tidak tertulis yang melegakan.

Sebagai humas yang baik, saya langsung memainkan faktor psikologis. Jatah snack siang yang hanya diisi dua macam kue plus air kemasan saya tambahkan dengan kopi dan teh manis. Kebetulan diskusinya berlangsung di jam ngantuk. Serangan saya tambah lagi dengan beberapa souvenir sosialisasi yang sudah disiapkan. Ada goodybag plus kaos dan sebuah mug cantik. Efek kejut ini lumayan berpengaruh. Disamping penjelasan dari pakarnya langsung, hasrat marah Bupati yang angkanya melorot tadi mulai mereda.

Solusipun ditawarkan. Beberapa program kerja coba disampaikan. Yang bisa dilaksanakan tentunya. Indikator-indikator yang menjadi kelemahan juga dikupas tuntas. Diselingi beberapa tampilan grafik yang jitu, senyum sang Bupati mulai merekah. Ternyata untuk beberapa indikator laju perkembangannya melebihi kabupaten lain, bahkan rata-rata propinsi. Sebuah penjelasan menarik yang membuat sang Bupati pede menghadapi dewan nantinya.

Kembali ke istilah manusia tanpa marah tadi. Rasanya saya harus melakukan koreksi menjadi manusia sesekali marah. Bisakah? Tapi disisi lain saya sedang menerapkan manajemen kasih sayang. Lha itu kan bertolak belakang? Saya ingin mencobanya. Caranya gampang. Ketika ingin marah, cukup ucapkan “sebagai bentuk rasa sayang saya kepada kalian, jangan lakukan pekerjaan yang membuat saya marah ya!”. Kira-kira mangkus nggak ya? Mudah-mudahan mempan. Barakallah.

10/05/2017
Pukul 06.55

#tulisanEO

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s