Kalau Anda Jantan Hormati Perempuan!

Dua kejadian kekerasan menyangkut perempuan yang tidak pernah lepas dalam ingatan saya salah satunya adalah terhadap kakak saya sendiri. Cerita sedih ini sudah pernah saya ungkap. Hanya gara-gara rebutan paha ayam goreng saya harus memukul punggung kakak saya. Tidak terlalu keras tapi dampaknya membekas. Saya ternyata adalah salah satu pelaku kekerasan terhadap perempuan. Ampunkan ya Allah.

Kekerasan kedua yang saya perbuat waktu sekolah di SMP Negeri 5 Padang. Di sekolah itu presenter Indonesia Lawyer’s Club-Karni Ilyas pernah menimba ilmu. Banyak tokoh hebat lahir dari sekolah di tengah sawah itu. Disuatu hari yang nahas, saya menarik kursi teman perempuan saya yang mau duduk. Langsung dia “terkongkang” ke belakang. Untung saja tangannya masih bisa menahan agar pantatnya tidak terhempas. Saya seperti penjahat perang. Bekasnya masih tersisa, hingga saya menuliskan goresan ini. Trauma!

Kemaren siang bersama Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPA), Kepala BPS Kecuk Suhariyanto memaparkan hasil Survei Pengalaman Hidup Perempuan Nasional 2016. Tujuan survei untuk mengetahui prevalensi perempuan yang pernah mengalami kekerasan fisik, psikis, seksual, dan ekonomi, baik yang dilakukan oleh pasangan maupun bukan pasangan. Selain itu, dari hasil survei akan didapatkan peta masalah kekerasan yang dialami perempuan yang pernah atau sedang menikah dan dilakukan oleh pasangannya, serta mengetahui dampak dan kemampuan perempuan dalam mengatasi kekerasan yang dihadapinya.

Ada diskusi menarik yang terjadi saat press release kemaren. Seorang reporter perempuan mempertanyakan, mengapa perempuan yang berpendikan SMA ke-atas paling banyak mengalami kekerasan fisik dan seksual. Angkanya mencapai 39,4 persen dan SD serta SMP 30,6 persen. Perempuan tidak bekerja pun paling banyak mendapatkan kekerasan fisik dan seksual sebesar 35,1 persen sedangkan bekerja 32,1 persen.

Saya mencoba menduga. Maap saya belum sempat mengelaborasi hasil survei lebih detail. Dugaan saya hal ini disebabkan responden yang berpendidikan SMA ke-atas lebih berani menyampaikan pengalaman yang pernah dirasakan kepada pencacahnya. Mereka sudah masuk kategori wanita matang. Berani memperjuangkan haknya.

Dewasa ini aktifitas pelecehan fisik dan seksual makin beragam. Interaksi bisa terjadi di ruang publik seperti transportasi umum, di pertigaan tempat nongkrong para preman, di pasar-pasar dan ruang publik lainnya. Siutan, colek-an godaan dengan kata-kata juga bentuk lain pelecehan. Beda kalau pelecehan dilakukan dalam bioskop. Itu suka sama suka atau alasan lain hanya Allah yang tahu. Jangan pernah mendekati zina. Jangan! Dosanya terlalu berat.

Pengalaman seorang teman perempuan saya membenarkan bahwa ingatan terhadap peristiwa itu tidak mudah untuk dihilangkan. Perempuan yang pernah mendapat perlakukan tidak senonoh tersebut akan selalu mengingat detik per detik kejadiannya. Sama seperti yang saya alami. Sebagai pelaku saja, sulit dan mungkin tidak akan pernah terhapus memori kejadian puluhan tahun silam dari benak saya. Apalagi sang korban. Maka, wahai para lelaki jantan. Jangan pernah lakukan apapun bentuk kekerasan kepada para perempuan disekitar kita. Kalau tidak! anda akan membawa trauma itu sepanjang hidup anda. Cam-kan itu. Maapkan saya para perempuan Indonesia. Selamat pagi. Jumat barokah.

31/03/2017
Pukul 06.57

#tulisanEO

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s