Indahnya Empat Kemenangan Beruntun

Empat kemenangan beruntun terjadi dalam satu hari. Ya, kemaren kejadiannya. Kemenangan pertama datang dari Real Madrid. Salah satu tim bola favorit saya. Setelah berbagi angka sama kuat 3-3 akhirnya dua gol dari Ronaldo di babak perpanjangan waktu mengakhiri perjuangan Bayern Munchen di laga 8 besar Liga Champion Eropa. Menikmati golnya Ronaldo sama rasanya dengan menikmati secangkir coklat hangat ditemani sepotong pisang goreng. Di pagi shubuh yang dingin lagi. Indahnya sebuah kemenangan.

Tujuh jam setelah kemenangan pertama, kemenangan kedua diproklamirkan. Teriakan takbir dan sorak sorai menggema dari sudut-sudut kelas 9 Sekolah Menengah Islam Terpadu (SMIT) Darul Abidin Depok. Mereka baru saja menyelesaikan ujian USBN. “Duh bi…gimana gitu rasanya, plong dah” ujar Naura Saffa, putri cantik Abi. “Adek udah ngebayangin nikmatnya ketemu kasur” lanjutnya. Itulah hakekat sebuah kemenangan. Apapun terasa indah ketika sebuah ujian berhasil dilewati.

Dan tentu saja lima jam setelah kemenangan kedua, saya menikmati hasil hitung cepat Pilkada DKI yang menempatkan Anies-Sandy sebagai Jawara Jakarta. Seluruh stasiun TV menyiarkan kemenangan tersebut. Tak ada satupun lembaga survei yang menghasilkan prediksi berbeda. Dengan gentle petahana mengakui keberhasilan tim lawan. Cukup telak. Dan rasanya tidak perlu ada gugatan apapun terkait hasil pilkada ini. Biasanya kalau berbeda tipis ada potensi gugatan. Manisnya sebuah kemenangan. Orang Depok saja menikmati apalagi orang Jakarta.

Tiga kemenangan beruntun bolehlah disebut hattrick. Seperti tiga gol yang dicetak Ronaldo di shubuh 19 April itu. Lalu kemenangan ke empat?. Hujan yang mengguyur Jakarta dan sekitarnya termasuk Depok menyisakan sedikit masalah buat saya. Sewaktu meninggalkan rumah udara sangatlah cerah. Panas terik malah. Siapa sangka di sorenya hujan menderas. Dan saya lupa memindahkan jemuran. Seperti biasa si ummi langsung bereaksi. Bukan aksi diam, tapi sebaliknya.

Alhamdulillah saya bisa mengatasi masalah kebathinan ini dengan baik. Saya sentuh bahu ummi dengan lembut. Saya tarik ke bagian dada. Lalu mengalirkan energi positif lewat pelukan itu. Hasilnya sungguh mengagumkan. Ummi bisa menerima argumentasi saya. “Mestinya ketika hujan turun kita harus cepat-cepat berdoa karena Rahmat Allah turun bersama sang hujan”. Sebuah wejangan penyejuk. Hati ummi adem. Saya merasa meraih sebuah kemenangan. Barakallah ya Allah, yang Maha Berkuasa membolak balik hati manusia. Selamat pagi Jakarta. Yuk berbagi kemenangan.

20/04/2017
Pukul 06.40

#tulisanEO

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s