Dada Tetap Membusung Tanpa Jampi

Almarhumah ibu mendoktrin saya agar menjadi anak yang baik hati, rajin membantu, sayang pada sesama. Hal yang sama saya lakukan kepada si abang Alif dan Naura Saffa. Tidak mudah memang tapi mereka harus punya alat mitigasi buat dirinya sendiri. Membangun kesadaran alam bawah sadarnya bahwa dia adalah anak yang baik.

Doktrin itu ternyata sangat susah untuk diaplilasikan. Ketika berusia 8 tahun saya pernah berkelahi dengan seorang teman. Badannya sedikit bongsor. Gerakan menangkis dan meninjunya lambat. Seperti adegan slow motion di film-film. Dengan mudah saya melayangkan tendangan kungfu yang langsung mendarat empuk di perutnya yang gendut. Buk! Tidak ada seringai kepuasan. Yang ada hanya penyesalan. Hingga hari ini. Saya belum sepenuhnya jadi anak baik. Perih.

Pukulan kedua yang saya layangkan kepada orang lain selama hidup saya adalah kepada kakak perempuan saya sendiri. Masih di usia anak-anak. Jaman dulu, ketika ekonomi orang tua saya masih melambat, makan ayam sekali seminggu itu adalah sebuah kemewahan. Saya kalah cepat meraih paha ayam yang ada di meja. Saya kejar, dan saya pukul punggungnya. Tidak keras. Tapi traumanya sampai hari ini tidak hilang-hilang. Membekas dalam. Saya bukan adik yang baik.

Itulah dua pertarungan tragis yang sangat saya sesali sepanjang hidup saya. Kata anak sekarang. Seperti nightmare. Mimpi buruk.

Tahun 1990 saya bertanding bola di Singapura dan Malaysia. Mewakili kampus. Sebelum berangkat saya diberi jampi-jampi oleh salah seorang paman. Katanya buat jaga-jaga. Dengan jampi itu saya merasa seperti seorang manusia super. Manusia kawat baja. Tapi anehnya. Walau berjalan dengan dada membusung layaknya seorang preman. Saya nyaris tidak pernah berantem. Jampinya jadi tidak teruji.

Apa pasal? Dalam diri saya muncul rasa percaya diri yang tinggi. Lha kan saya udah dijampi. Kagak bakal ada yang berani dah. Jadi selain doktrin untuk menjadi anak baik nan pemberani sejatinya kita butuh jampi. Saat ini si jampi sudah tidak laku lagi. Dilibas oleh semakin pahamnya saya dengan Islam. Setiap hari saya harus mengganti jampi tadi dengan amalan zikir dan doa. Ternyata itulah salah faktor penting agar bisa selalu menjadi anak baik. Perbanyak doa, zikir dan ibadah sunnah lainnya. Jampi enyahlah.

16/03/2017
Pukul 06.56

#tulisanEO

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s