Cinta Monyet Berjuta Rasanya

Masih ingat cinta pertama anda? Mungkin ada yang menjawab acuh, saya mah langsung nikah aja, nggak pake cinta pertama segala. Atau ada lagi yang jawabannya, indah banget mas bro. Tak kan terlupakan. Saya termasuk golongan kedua. Cinta monyet saya jatuh saat SMP. Maap, status ini tidak untuk mengungkit masa lalu, dan tidak akan menyebut nama pelaku. Konteksnya adalah, cinta monyet pertama kali itu berjuta rasanya.

Gadis yang membuat malam-malam saya berlalu begitu indah bernama Mawar (jelas bukan nama sebenarnya). Saking sukanya saya, menyapanya saja saya tidak berani. Jika berpapasan, maka muka saya pasti ditekuk. Saya akan menunduk dalam sekali. Terlihat sholeh. Takut bersirobok pandang. Takut zinah mata. Sedemikian dashyat jatuh cinta versi dulu. Entah yang lain. Bagi saya jatuh cinta ya hanya sekedar membayangkan saja. Tak lebih. Dan dikemudian hari, jujur saja, itu cukup membuat hati ini menderita.

Apa pasal? Takut tak jumpa lagi!. Maklum setelah selesai SMP belum tentu kita akan bertemu di SMA yang sama. Maka setiap malam setelah ujian belajar tahap akhir (EBTA) saya berdoa habis-habisan kepada Allah semoga dipertemukan lagi di SMA yang sama. Dan Allah adalah sebaik-baik pengabul doa. Yakin itu!. Alhamdulillah hingga kuliah di Universitas Andalas saya selalu bersama. Dan hebatnya hingga saat ini dia tidak pernah tau kalau saya suka padanya. Cinta itu aneh dan membingungkan. Lebay dah.

Gerakan cinta DATA beda dengan gerakan mencari cinta sejati. Kalau cinta pertama tidak pernah hilang dalam ingatan, cinta DATA haruslah selalu ditumbuhkembangkan. Dia harus dirawat dengan memahami bagaimana dia bermula. Bagaimana para pengumpul data (PPD) di lapangan berjibaku mengetuk pintu para responden, menebar senyum dan tentu saja melakukan wawancara untuk mengisi kuesioner sensus atau survei yang dibawa.

Selesai? Belum, DATA fresh from the oven itu harus diperiksa, divalidasi untuk selanjutnya dientry dan ditabulasi. Bahkan jika dirasa ada yang ganjil, responden bisa didatangi sekali lagi, konfirmasi ulang hingga yakin data untuk dua ratus juta lebih penduduk Indonesia ini benar-benar layak untuk disajikan. Semua dilakukan karena cinta. Tak kan mungkin muncul rasa itu jika sejak pertama masuk BPS kita tidak terpesona dengan the beauty of DATA. Temukan cintamu pada DATA dan gelorakan semangat untuk selalu mencintainya. Barakallah.

20/06/2017
Pukul 06.35

#tulisanEO

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s