Belajar Pidato Berhadiah Tas Tangan

Sahabat saya Jeng Titi menulis status di timelinenya. Pingin bingit jadi seorang pembicara yang baik. Tidak harus sampai menyihir penonton seperti para motivator mahal. Cukup punya keberanian untuk memberikan sepatah dua patah kata dipertemuan resmi misalnya atau hanya di level arisan RT sekalipun. Bahkan dia sampai pingin barter dengan tas buatan tangannya sendiri, jika ada teman yang mau berbagi tips belajar bicara di depan umum kepada si Jeng.

Suatu waktu di tahun 1999 di pelosok Kalimantan saya bersama om Margo Yuwono akan tampil di depan para pimpinan daerah sebuah kabupaten. Mulai dari Muspida, unsur angkatan bersenjata tentara dan kepolisian, LSM hingga tokoh masyarakat. Persiapan teknis sudah disiapkan dari Jakarta. Bahan power point tinggal tayang. Pembagian tugas juga sudah dilakukan. Sebagai senior beliau yang akan tampil, saya jadi asisten sorot. Yang mengagetkan adalah saya juga dipaksa pakai dasi oleh om Margo. “Kita kudu tampil rapih friend!” wejangan seseorang yang sudah malang melintang di dunia persilatan. Ternyata penampilan itu berpengaruh buat seorang pembicara. Catat ya Jeng.

Senior saya yang kedua adalah pak BH. Bukan pelat nomor Jambi tapi kependekan dari Bambang Heru. Yang unik adalah walau beliau tampil cuma setengah jam tapi bahan yang disiapkan untuk penampilan satu jam. Moto beliau “persiapan anda menentukan sejauh mana gemuruh tepuk tangan mengakhiri salam penutup anda”. Kalau perlu persiapkan diri dua ratus persen. Jangan pernah tampil di panggung jika dirasa tidak siap. Nekad? Bersiaplah anda tidak bisa tidur seminggu lamanya. Catat lagi yang Jeng.

Dulu, beberapa coretan sambutan dan arahan seorang mantan Kepala BPS RI sempat saya dokumentasikan. Sayang sekarang entah di mana. Dibeberapa paragraf sudah ditandai dengan coretan kapan harus joke atau keluar dari catatan sambutan itu. Maksudnya, ketika paragraf itu harus dikhiri joke, maka dia akan memandang penuh keseluruh penonton, dan jadilah beliau seorang stand-up comedy yang bikin “pecah” peserta rapat. Sambutan dan arahan beliau jadinya segar. Kalo perlu dicatet ya Jeng.

Dari seorang Urip Widyantoro sahabat saya ketika menjadi petugas survei haji di tahun 2011, saya belajar bagaimana membuka pembicaraan dengan joke ringan. Bahasa dan tata kalimatnya sudah diatur sedemikian rupa. Joke harus mengena, ringkas, to the point dan tidak boleh ada keraguan di dalam penyampaiannya. Harus lugas. Ini bagian tersulit. Harus dilatih berulang-ulang. Kalau perlu intonasi suara naik dua level, dibarengi gerakan tangan dan tubuh yang sedikit “liar” diiringi pandangan mata yang tajam ke arah penonton. Kalimat terakhir datang dari maha guru pak Sairi Hasbullah. Boleh dicatat Jeng.

Pada akhirnya pelajaran berbicara di depan publik bermuara kepada latihan dan latihan. Dua sahabat baik saya Munawar Asikin dan prof Kadir Ruslan sudah melakukannya. “Seperti orang gila” sebut mereka ketika harus berlatih di depan kaca. Maklum bicara sendiri tanpa penonton. Di kamar lagi. Maka, Jeng Titi yang baik hati dan rajin menolong, sudilah kiranya mengantarkan kepada saya sebuah tas produksi tangan Jeng ke rumah saya, karena catatan ini masih akan panjang dan saya khawatir Jeng akan kehabisan kertas untuk mencatatnya. Selamat siang Jakarta. Barakallah.

15/04/2017
Pukul 09.30

#tulisanEO

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s