Bapaknya Sok Sibuk, Anaknya Calm

Alhamdulillah tugas menyetir mobil selama dua puluh tahun berakhir sudah. Sekarang tugas itu diambil alih Abang Alif. Butuh waktu dua tahun lamanya untuk alih kemudi ini. Dimulai dengan kursus nyetir selama delapan kali pertemuan, plus SIM, akhirnya pelan tapi pasti si Abang mulai merambah jalan-jalan sekitar komplek. Perjalanan ke Depok pertama kali membuat saya sakit perut. Entah dari mana datangnya, setiap motor menyalip baik dari kiri maupun kanan, otomatis kaki kanan saya langsung menekan lantai mobil, seolah menginjak rem. Padahal anak bujang di samping saya itu woles saja. Bawaan si abang memang selow alias anteng. Sejak lahirnya begitu.

IMG_9738Berbeda jauh dengan saya yang jika membawa motor sedikit kesetanan, si abang merancak motor matic-nya dengan penuh perhitungan. Suatu ketika saya pernah dibonceng menuju Depok. Perjalanan yang bagi saya cukup dua puluh menit saja, bersama si abang bisa tiga puluh menit. Jangan harap dia mengambil resiko menyalip angkot jika di arah berlawanan ada mobil musuh. Di tangan saya itulah tantangannya naik motor. Nyalip di antara dua mobil itu menaikkan level adrenalin hingga tiga level. Degup jantung mengiringi keseruannya. Jangan ditiru!. Jam terbang motor saya cukup untuk melakukan manuver ini. Ingat, itupun sangat tergantung situasi dan kondisi. Motor sehat, jalurnya sudah dihafal dan tentu pengalaman bicara.

Minggu lalu di lapangan sepak bola Universitas Indonesia Depok saya menonton abang Alif bermain bola melawan tim alumni Teknik UI. Posisinya sama dengan saya dulu ketika memperkuat tim sepakbola Fakultas Pertanian Universitas Andalas Padang yaitu back kanan. Bedanya lagi-lagi, saya lebih garang dibanding dia. Bola boleh lewat lawan entar dulu. Ente jual ane beli. Kalaupun langkah saya tertinggal, sebuah sliding tackle akan menghabisi peluang penyerang lawan untuk mencetak gol. Gaya bermain saya penuh resiko. Walau beberapa kali berhasil menjegal lawan dengan bersih, beberapa kali juga lutut saya harus diremas tukang pijit. Bahkan sebuah lobang kecil di tengah tulang kering menjadi monumen atau pertanda bahwa saya dulu adalah mantan pemain bola. Berbeda dengan abang Alif yang suka bermain anggun dan elegan. Hasilnya dua gol musuh lahir dari sektor yang dikawal si abang.

20170513_155046Begitu banyak perbedaan saya dengan si Abang. Kemampuan saya bermain ragam olahraga jauh lebih banyak. Mulai dari karambol hingga memanah saya bisa. Paling si abang unggul dalam game online yang memang sedari dulu saya tidak suka. Point cerita saya pagi ini adalah pengalaman hidup, jam terbang dan keberanian mengambil resiko tidaklah diwariskan melalui gen keturunan. Walau tidak sepenuhnya benar, tidak semua stigma Like Father Like Son itu ada benarnya. Air cucuran atap jatuhnya ke pelimbahan juga, begitu kata pepatah. Lha kalau sekarang ada paralon maka sang air bisa dialirkan ke penampungan air hujan. Airnya bisa dimanfaatkan.

Begitulah hidup. Perlu kemanfaatan buat lingkungan, masyarakat dan keluarga. Kemaren ada tetangga meninggal dunia. Saya tarik selimut si abang, saya ajak dia bangun dan saya ajarkan dia untuk hidup bermasyarakat. Walau sedikit canggung karena tidak ada teman sejawat, saya tetap mengarahkan dia untuk berbuat sesuatu seperti menyiapkan bendera kuning, mencari bambu, memasangnya di pintu masuk komplek. Minggu lalu Ketua Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) meminta si abang membantu mengurus Remaja Masjid. Kalau soal beginian saya memang menginginkan si abang mengikuti jejak langkah saya yaitu senang mengurus umat. Perlu waktu memang, tapi jika tidak dimulai dari mengurus yang kecil-kecil dulu, bagaimana bisa mengurus yang lebih besar seperti negara misalnya?. Ah kereta sudah sampai di Juanda, saatnya saya mengirim catatan nyender ini ke dunia maya, saatnya berbagi. Mudah-mudahan si abang juga suka melakukannya. Barakallah.

31/01/2018
Pukul 06.50

#tulisanEO